Shin Tae-Yong, Akankah Kembali Jadi Bintang Iklan?

Blog post description.

6/11/20263 min read

soccer field
soccer field

Bagi pencinta sepak bola di Indonesia, layar kaca kita belakangan ini menyuguhkan pemandangan yang unik. Begitu jeda pertandingan, wajah yang muncul bukan lagi cuma bintang lapangan seperti Cristiano Ronaldo yang mempromosikan aplikasi belanja, atau Lionel Messi dengan keripik kentangnya.

Wajah yang muncul justru Shin Tae-yong (STY). Pelatih Timnas kita ini mendadak ada di mana-mana: joget-joget megang sosis, merekomendasikan kopi, sampai jadi bintang iklan mi instan dan bank.

Fenomena ini memicu pertanyaan cerdas sekaligus santai: Apakah pelatih sepak bola di level dunia juga "turun gunung" jadi bintang iklan komersial seperti Coach STY? Ataukah mereka terlalu jaim untuk jualan produk di luar urusan taktik?

Jawabannya: Ooh, jelas iya. Bahkan beberapa dari mereka jauh lebih oportunis dan kocak!

Di panggung dunia, pelatih sepak bola tidak lagi sekadar "bapak-bapak galak berjas yang hobi teriak di pinggir lapangan." Mereka adalah brand, figur kultus, dan magnet engagement. Mari kita lihat bagaimana para peracik taktik top dunia ini juga merangkap jadi "sales" kelas kakap.

1. Jürgen Klopp: Raja Iklan Otomotif dan Bir dari Jerman

Kalau STY adalah raja iklan TV Indonesia, maka Jürgen Klopp adalah rajanya di Eropa. Mantan bos Liverpool ini punya karisma bapak-bapak asyik (good-humored, easy-going) yang sangat menjual.

Sejak tahun 2012, Klopp sudah dikontrak menjadi brand ambassador raksasa otomotif Jerman, Opel. Iklannya pun dibuat jenaka. Ada satu seri iklan legendaris di mana Klopp mengendarai mobil Opel Mokka melewati jalanan berlumpur, lalu mengirim pesan ke temannya sambil tertawa khasnya yang lebar.

Tak cuma mobil, Klopp juga membintangi iklan bir non-alkohol Erdinger, apparel Adidas, hingga investasi keuangan. Bagi agensi iklan, senyum lebar Klopp dan emosinya yang jujur adalah garansi produk bakal laku.

2. José Mourinho: "The Special One" yang Rela Jadi Viking demi Cokelat

Jika ada pelatih yang punya bakat akting alami, dialah José Mourinho. Pelatih legendaris yang baru saja kembali menukari Real Madrid ini sadar betul bahwa magnet utamanya adalah kontroversi, kesombongan yang elegan, dan sifatnya yang dramatis.

Agensi iklan tahu cara memanfaatkan "kegilaan" taktik Mourinho. Dalam iklan Snickers global bertajuk "You're Not You When You're Hungry", Mourinho diceritakan berubah menjadi sekadar penonton yang linglung di tengah pertempuran suku Viking. Sambil membawa papan strategi, ia malah meneriaki para prajurit Viking berkapak untuk memakai formasi bertahan 4-5-1.

Mourinho juga pernah membintangi iklan jam tangan mewah Hublot, game Top Eleven, hingga platform judi olahraga. Dia tahu cara menjual arogansinya menjadi pundi-pundi uang.

3. Pep Guardiola: Representasi Kelas Atas dan "Quiet Luxury"

Berbeda dengan Klopp yang kasual atau Mourinho yang dramatis, Pep Guardiola adalah personifikasi dari taktik yang presisi, gaya yang necis, dan intelektualitas. Merek-merek yang mendekati Pep biasanya bertema elegan dan high-end.

Pep adalah bintang iklan untuk mobil elektrik premium Nissan, pakaian dalam mewah, hingga bank asal Jerman, DSK. Di dalam iklannya, Pep jarang diminta berjoget atau bertingkah konyol. Dia biasanya digambarkan sedang berpikir keras di ruang kerja yang estetik, merepresentasikan pesan bahwa produk tersebut dirancang dengan kejeniusan tinggi—sama seperti taktik tiki-taka miliknya.

4. Pelatih Timnas Generasi Pendahulu: Pelopor "Iklan Rice Cooker"

Kalau ada yang mengkritik Shin Tae-yong karena dianggap "menurunkan derajat pelatih" dengan mengiklankan makanan, mereka sepertinya kurang piknik sejarah sepak bola Asia Tenggara.

Jauh sebelum STY, rival kita di Vietnam, Park Hang-seo, sudah lebih dulu membintangi belasan iklan di Vietnam, mulai dari sosis hingga aplikasi finansial. Bahkan pelatih legendaris Timnas Indonesia asal Austria, mendiang Alfred Riedl, di masa jayanya pernah menjadi bintang iklan alat penanak nasi (rice cooker) di Vietnam. Bedanya, saat itu Riedl menyumbangkan seluruh pendapatannya dari iklan tersebut untuk aksi amal.

Mengapa Pelatih Lebih Laku daripada Pemain?

Secara bisnis, ada alasan cerdas mengapa perusahaan modern sekarang lebih suka mengontrak pelatih ketimbang pemain bintang:

  • Representasi Otoritas dan Kepercayaan: Pemain bola melambangkan bakat dan kemudaan, tapi pelatih melambangkan kepemimpinan, strategi, dan keputusan matang. Jika seorang pelatih menyarankan sebuah produk, audiens merasa produk itu sudah "dianalisis" dengan baik.

  • Risiko Cedera Nol: Mengontrak pemain mahal berisiko rugi jika si pemain cedera panjang dan absen dari media. Pelatih? Mereka akan selalu berdiri di pinggir lapangan setiap minggu, menatap kamera, dan memakai pakaian yang dipasangi logo sponsor.

  • Karier Lebih Panjang: Karier pemain bintang paling lama bertahan 10-15 tahun. Karier pelatih? Mereka bisa tetap relevan dan berada di level tertinggi hingga usia 60-an.

Kesimpulan

Jadi, saat kamu melihat Coach Shin Tae-yong tersenyum di baliho pinggir jalan atau joget tipis-tipis di sela-sela iklan sinetron, tidak perlu menganggapnya aneh atau merusak wibawa.

Di era industri modern, sepak bola adalah hiburan, dan pelatih adalah direktur utamanya. Selama taktik di lapangan tetap membuahkan kemenangan, tidak ada salahnya melihat sang arsitek lapangan hijau menikmati bonus dari dunia sekuler, bukan? Lagipula, kalau Mourinho saja rela jadi Viking demi cokelat, STY pegang sosis tentu masih sangat masuk akal!