Setengah Hati di Lapangan Hijau: Mengapa Paman Sam Enggan Jatuh Cinta pada Sepak Bola

Sepakbola sebagai olahraga terpopuler di dunia, ternyata tidak populer di Amerika, mengapa?

6/18/20264 min read

people watching soccer arena
people watching soccer arena

Penulis: R. Bagus Priyo Anggodo

Sore itu saya kerja agak resah. Bukan karena kebelet kencing, ataupun takut bertemu lagi dengan pelanggan yang sehari sebelumnya marah-marah karena kecipratan cat. Tapi karena jam 9:00 malam, Argentina—tim jagoan saya—akan bertanding melawan Aljazair dalam laga Piala Dunia. Masalahnya, saya baru tuntas kelar kerja jam 10 malam.

Saya memuntahkan keresahan ini kepada salah seorang rekan kerja, orang Amerika asli.

“Sepak bola? Saya tidak suka. Saya suka baseball atau bola basket. Saya gembira jagoan saya Knicks akhirnya juara,” ujarnya sambil senyum terkekeh.

Sialan. Salah curhat saya.

Marcos, teman kerja yang lain asal Filipina, hanya tersenyum simpul dan malah justru menambah kerunyaman batin saya. “Kamu harus tahu, sepak bola tidak populer di Amerika. Lain dengan di negaramu,” sergahnya.

Gak populer? Tapi kan banyak yang main sepak bola di sini? Dan kesebelasan Amerika bermain bagus, menggunduli Paraguay 4-1 dalam pertandingan pertama kemarin.

Persetan lah, saya akan nonton di HP nanti jam 9, nyuri-nyuri kalau pas tidak ada pelanggan.

Aha, ada pelanggan datang. Lelaki paruh baya pakai kaos Argentina bernomor punggung 10. “Hola, ¿cómo estás? ¡Viva Argentina!” sapa saya dalam hati (dan sedikit di bibir).

Namun, obrolan dengan rekan kerja tadi membekas. Ya, secara profesional, sepak bola—atau yang dengan angkuhnya mereka sebut soccer—memang kalah populer dengan American football, baseball, basketball, bahkan ice hockey.

Mengapa negara adidaya yang ingin menguasai segala hal di bumi ini justru seperti setengah hati, bahkan cenderung sinis, untuk menyukai olahraga nomor satu di dunia? Apakah ada kutukan sejarah, ego sosiologis, atau memang mereka cuma tidak sabaran?

Urusan Skor dan Nafsu "Instan" Amerika

Bagi orang Amerika, menonton sepak bola itu seperti membaca novel tebal yang bab terakhirnya hilang. Mereka adalah bangsa yang mengagungkan statistik, aksi instan, dan selebrasi tiada henti.

Coba lihat bola basket atau American football. Skor bisa mencapai 110-108 atau 35-28. Angkanya besar, papan skor berkedip-kedip heboh, dan adrenalin dipompa setiap tiga puluh detik.

Sementara sepak bola? Anda bisa duduk manis selama 90 menit penuh ketegangan, menahan napas sampai muka biru, hanya untuk menyaksikan pertandingan berakhir dengan skor 0-0. Bagi rata-rata orang Amerika, skor 0-0 itu bukan taktik yang jenius, melainkan sebuah penghinaan terhadap waktu luang mereka. "Bagaimana bisa Anda berolahraga dua jam dan tidak ada yang menang?!" begitu keluh mereka.

Secara sosiologis, sepak bola juga kekurangan satu hal yang sangat dicintai industri penyiaran Amerika: Commercial Breaks (jeda iklan).

Di NFL atau NBA, pertandingan berhenti setiap beberapa menit sekali demi memberikan waktu bagi iklan burger, asuransi, atau mobil pikap besar. Sepak bola adalah mimpi buruk bagi eksekutif TV Amerika. Dua babak, masing-masing 45 menit tanpa henti berjalan. Kapan penonton dipaksa beli barang belanjaan? Karena TV tidak bisa menyisipkan iklan di tengah-tengah serangan balik yang menegangkan, industri sempat bingung bagaimana cara "menjual" olahraga ini.

Ego: Kami yang Bikin Aturan, Kami yang Harus Menang

Ada juga faktor historis dan psikologis yang agak menggelitik ego mereka. Orang Amerika suka menciptakan olahraga mereka sendiri (American football, baseball), memainkannya sendiri, lalu dengan percaya diri menyebut pemenangnya sebagai "World Champion"—meski yang ikut tanding cuma tim dari negara bagian mereka sendiri dan satu tim selundupan dari Kanada.

Sepak bola adalah produk global. Amerika tidak mendikte aturannya, dan mereka tidak bisa langsung datang lalu otomatis menjadi penguasa dunia di olahraga ini. Bagi sebuah negara super power, berada di posisi "medioker" di panggung dunia dalam hal olahraga tentu agak menggores harga diri. Jadi, sebelum mereka kalah, lebih aman bilang: "Ah, lagian kami memang tidak suka olahraga itu."

Uniknya, di tingkat akar rumput, Amerika sebenarnya adalah salah satu negara dengan jumlah pemain sepak bola terbesar. Fenomena "Soccer Mom" sangat terkenal—ibu-ibu yang mengantar anak-anak mereka latihan sepak bola setiap sore. Tapi entah mengapa, begitu anak-anak ini tumbuh dewasa, sepatu bola mereka pensiun dini dan digantikan oleh penonton yang memegang kaleng bir sambil menonton NFL di hari Minggu. Sepak bola di Amerika sering kali dianggap sebagai "olahraga anak-anak" atau olahraga rekreasi, bukan tontonan utama pria dewasa.

Babak Baru: Apakah Paman Sam Mulai Tergoda?

Namun, jangan remehkan kekuatan pasar. Masa depan sepertinya mulai bergeser, meski pelan seperti operan pendek di lini belakang.

Generasi muda Amerika (para Millennials dan Gen Z) mulai melihat sepak bola dengan cara berbeda. Mereka tumbuh dengan video game FIFA (sekarang EA Sports FC), bisa dengan mudah menghafal nama pemain Real Madrid atau Manchester City, dan tidak lagi alergi dengan skor kacamata. Kedatangan megabintang dunia ke liga domestik mereka (MLS) dan hak siar global yang makin masif juga mulai mengikis dinding antipati itu.

, tim nasional mereka—baik pria maupun wanita—makin sering berbicara banyak di turnamen internasional. Kemenangan 4-1 atas Paraguay kemarin adalah buktinya. Orang Amerika suka pemenang. Kalau tim mereka mulai konsisten menang, lambat laun stadion akan penuh juga.

Jam di dinding toko hampir menunjukkan pukul 9 malam. Lorong-lorong cat mulai sepi. Saya melirik HP yang disembunyikan di balik kaleng primer lima galon. Argentina sudah mau kick-off.

Biar saja rekan kerja saya sibuk membahas Knicks atau atau home run

Jam 10:00, sif saya usai. Tepat saat itu, babak pertama baru saja usai.

Saya bergegas menuju tempat parkir, menyalakan mesin mobil, dan menjepit HP di dashboard. Sepanjang jalan pulang, sepanjang jalan itu pula mata saya terbagi dua: memantau aspal jalanan Virginia dan melirik layar HP setiap kali komentator mulai berteriak histeris. Babak kedua baru dimulai, dan tensi pertandingan makin memanas.

Begitu mobil masuk garasi rumah, saya tidak langsung mematikan mesin. Saya bertahan di dalam mobil beberapa menit karena Argentina sedang membangun serangan balik cepat. Gol! Satu angka berubah di layar.

Tak mau kehilangan momen, saya langsung keluar mobil setengah berlari, membuka pintu rumah, dan melempar sepatu asal-asalan demi langsung menyalakan layar yang lebih besar di rumah. Di sinilah, di ruang tamu sendiri, saya akhirnya bisa bernapas lega dan menyaksikan sisa babak kedua dengan paripurna.

Pertandingan berakhir. Argentina menang telak 3-0! Aljazair dibuat mati kutu, dan tiga gol tanpa balas itu rasanya seperti bayaran tunai untuk keresahan saya sejak sore hari di toko cat.

Saya bersandar di sofa sambil tersenyum puas. Biar sajalah rekan kerja Amerika saya tadi sibuk membanggakan Knicks atau olahraga dengan skor ratusan mereka. Mereka tidak akan pernah tahu rasanya euforia mengejar babak kedua dari dasbor mobil hingga ruang tamu rumah demi sebuah kemenangan 3-0.

Malam ini, keadilan sepak bola ditegakkan. Dan besok pagi, kalau ada pelanggan berkaos Argentina bernomor punggung 10 datang lagi ke toko, saya pastikan dia akan mendapat pelayanan paling ramah se-Amerika Utara. Viva Argentina!