Add your promotional text...
Ketika Kopi Harus Tidur Cepat
Tidak seperti di kota kota besar di Indonesia, kedai kopi di Amerika tutup lebi cepat.
6/23/20263 min read
Ketika Kopi Harus Tidur Cepat
Penulis: R. Bagus Priyo Anggodo
Kapan itu saya disambangi teman dan keluarganya dari Indonesia. Senang tentu. Ini jarang terjadi, mungkin kejadian lima tahun sekali.
Biasalah, kepada mereka saya tawari tempat wisata yang wajib dikunjungi di DC: Gedung Putih, Capitol Hill, Lincoln Memorial, sampai "Tugu Monas"-nya Amerika. Mereka manut saja. Hari itu kebetulan panas sekali, tapi mereka tetap semangat saya ajak jalan kaki gobyos mengunjungi tempat-tempat ikonik itu.
Setelah mampir di kedai kopi Dua DC di dekat Gedung Putih, perut mulai keroncongan. Saatnya makan siang, dan saya sudah menduga mereka pasti mencari restoran halal.
Tidak masalah, di DC restoran halal sudah menjamur. Kami akhirnya mampir di restoran kebab halal yang tidak jauh dari Gedung Putih juga.
Setelah perut damai, kami melanjutkan perjalanan ke Lincoln Memorial, lalu leyeh-leyeh di sekitar area ini sampai matahari nyaris tenggelam. Saat itulah teman saya berbisik syahdu, "Bro, malam ini enak kali ya kalau nongkrong di kedai kopi. Yang bisa sambil ngudut kalau bisa..."
Duh, mendengar permintaannya, kepala saya langsung agak pusing.
Kalau mencari makanan halal di kota besar Amerika, urusannya gampang. Tapi kalau mencari kedai kopi yang buka sampai larut malam untuk tempat nongkrong? Wah, itu fiksi ilmiah di sini.
Starbucks atau gerai kopi waralaba lainnya biasanya sudah gulung tikar jam 7 atau maksimal jam 8 malam. Kalau cuma butuh asupan kafein di atas jam itu, opsinya paling banter ke minimarket semacam 7-Eleven. Tapi ya bayangkan saja: masa iya, jauh-jauh terbang dari Jakarta ke Washington DC, malam-malam nongkrongnya di parkiran Seven Eleven sambil megang gelas kertas? Kurang estetis untuk masuk Instagram.
Mendengar penjelasan saya, teman saya bingung. "Lha, terus kalau orang sini mau nongkrong sampai larut malam pada ke mana?"
Ya saya jawab jujur sambil terkekeh, "Ya ke bar, Bro! Minum 'jamu' Amerika alias alkohol. Di sini kopi itu buat kerja, kalau malam urusannya sama yang memabukkan... ha ha ha."
Memgapa Kopi Amerika Enggan Lembur?
Pertanyaan teman saya malam itu sebenarnya mewakili kebingungan banyak orang Indonesia yang baru pertama kali ke Amerika. Kenapa negara sekaya ini tidak punya tradisi warung kopi 24 jam ala Jakarta, Jogja, atau Medan? Mengapa jam 8 malam lampu-lampu mesin espresso sudah dimatikan?
Ada beberapa alasan sosiologis, ekonomis, dan sejarah yang bikin geleng-geleng kepala:
1. Logika Fungsi: Kopi untuk 'Bensin', Alkohol untuk 'Santai'
Bagi orang Amerika, kopi adalah "bahan bakar" produktivitas, bukan alat bersosialisasi di malam hari. Sejak zaman Revolusi Industri, kopi dikonsumsi di pagi hari agar mata melek dan siap kerja kantoran atau pabrik. Fungsinya murni utilitarian: Kopi = Kerja.
Begitu jam menunjukkan pukul 5 sore, tombol mental mereka bergeser ke mode relax. Dan di budaya Barat, instrumen untuk relaksasi setelah jam kerja adalah alkohol (bir, wine, atau koktail), bukan kafein. Jadi secara sosiologis, tempat nongkrong malam hari otomatis pindah ke bar atau pub. Memesan kopi jam 10 malam di Amerika itu dianggap aneh, seperti orang yang mau tidur tapi malah minum suplemen stamina.
2. Faktor Ekonomi: Upah Buruh yang "Bikin Nangis" Pemilik Kedai
Ini alasan paling realistis. Di Indonesia, biaya tenaga kerja relatif murah. Pemilik warkop bisa menggaji beberapa jagoan lokal untuk jaga sif malam sampai subuh, bermodalkan gorengan dan wifi gratis.
Di Amerika, aturan upah minimum sangat ketat dan mahal. Membuka kedai kopi sampai tengah malam berarti pemilik harus membayar upah lembur karyawan (overtime) yang tinggi, plus biaya listrik dan asuransi ekstra. Sementara itu, pendapatan dari orang yang nongkrong malam hari biasanya minim—paling cuma beli satu cangkir kopi hitam seharga $3 tapi duduknya 4 jam suntuk sambil numpang ngecas laptop. Secara matematika bisnis, itu namanya nomok kromo! Lebih baik tutup jam 7 malam.
3. Budaya Suburbia dan "Pulang ke Rumah"
Tata kota di Amerika juga berpengaruh. Banyak pekerja di kota besar seperti DC sebenarnya tinggal di pinggiran kota (suburb). Begitu jam kerja selesai, mereka akan bergegas naik kereta atau menyetir pulang ke rumah yang jaraknya bisa satu jam perjalanan. Budaya mereka adalah menghabiskan malam bersama keluarga di rumah, atau kalaupun bersosialisasi, ya di bar lokal dekat tempat tinggal mereka. Pusat kota malam hari biasanya sepi, sehingga kedai kopi tidak punya pasar yang cukup untuk tetap buka.
4. Alasan Kesehatan: Ketakutan Kolektif akan Insomnia
Orang Amerika modern sangat terobsesi dengan yang namanya sleep hygiene atau kualitas tidur. Kampanye kesehatan di sini gencar mengingatkan bahaya kafein di malam hari yang bisa merusak siklus tidur. Jadi, jangankan minum kopi jam 9 malam, lewat jam 3 sore pun banyak orang Amerika yang sudah antipati dengan kafein dan beralih ke teh herbal atau kopi decaf (tanpa kafein).
Malam itu, setelah saya jelaskan panjang lebar (minus teori ekonominya, tentu saja, karena perut kami masih kekenyangan kebab), teman saya akhirnya pasrah. Kami tidak jadi nongkrong di bar karena bawa keluarga, dan tidak jadi ngopi karena kedainya sudah pada tutup.
Akhirnya, malam itu ditutup dengan cara yang sangat Amerika sekaligus sangat Indonesia: kami membeli beberapa botol minuman dari supermarket, kembali ke apartemen, lalu nongkrong di ruang tamu sambil menyeduh kopi instan bawaan dari Indonesia.
Ternyata, sejauh-jauhnya kita main ke luar negeri, kearifan lokal "ngopi dan ngobrol sampai tengah malam" memang paling nikmat dilakukan di rumah sendiri—atau setidaknya, di tempat yang tidak mengusir kita jam 8 malam dengan alasan karyawannya mau pulang.