Kerja Ritel Pasca Pensiun; Perangi Sunyi dan Inflasi

Fenomena pensiun tapi merasa perlu untuk tetap sibuk di kalangan para pensiunan di Amerika.

6/16/20264 min read

woman in green long sleeve shirt standing in front of clear glass jars
woman in green long sleeve shirt standing in front of clear glass jars

Kerja di Ritel Pasca Pensiun

Penulis: R. Bagus Priyo Anggodo, Washington, DC

Malam itu saya jaga sendirian. Meski tidak seramai sore hari, masih ada beberapa pelanggan yang antre.

“Tolong saya pesan cat warna Stolen Kiss ini, finishnya eggshell, 2 galon,” kata salah seorang pelanggan.

“Ok, cat Anda akan selesai lima sampai tujuh menit,” kata saya setelah memasukkan data-data pesanan dia ke komputer dan mencetak stiker.

Bergegas saya menuju rak cat dasar. Terlihat dua kaleng cat dasar medium eggshell. Tanpa pikir panjang, saya sahut saja keduanya. Sialan, karena posisi agak tinggi, salah satunya melesat dari genggaman tangan saya. Brak!

Dalam sekejap, cairan putih kental menyebar, membentuk pulau baru yang tak ada di peta dunia.

Saya berdiri terpaku, garuk-garuk kepala sebentar sambil misuh lirih. Kulihat sepatu saya sukses mendapat highlight warna baru.

Siapa yang menumpahkan, dialah yang harus membersihkan. Setelah bengong sejenak, saya segera memagari tumpahan cat itu, ambil peralatan pembersih, dan mengosek-osek lantai supaya bersih seperti sedia kala. Beruntung, seorang teman kerja datang dan melayani pelanggan yang masih antre.

Saat saya sedang asyik mengosek lantai, pelanggan tadi lewat dan nyeletuk, “Duh, kasihan kamu, perlu bantuan?” katanya sambil bercanda.

"Selamat datang di dunia ritel!" batin saya.

Pikiran saya mendadak melayang ke beberapa bulan lalu, saat saya masih duduk nyaman di kantor Voice of America (VOA); duduk di meja menulis skrip ataupun nampang di depan kamera stand up. Kini? Di hadapan saya bukan mikrofon kondensor, melainkan tumpahan cat warna eggshell yang harus segera dibersihkan sebelum mengering dan menjadi monumen kegagalan permanen saya hari itu.

Saat memegang kain pel dengan punggung yang mulai protes, sebuah pertanyaan eksistensial mendadak muncul: Supri, Supri... setelah puluhan tahun menjadi jurnalis, kenapa sekarang kamu malah repot-repot ngosek lantai di Home Depot? Apakah ini sebuah degradasi kelas? Ataukah saya sedang terjebak dalam romantisasi pekerjaan kasar di Amerika?

Namun, ketika rasa nelangsa itu lewat, ada kepuasan aneh yang muncul. Kemarin, seorang pelanggan datang dengan wajah frustrasi mencari warna yang pas untuk kamar bayinya. Setelah mengobrol, mencampur beberapa palet, dan memberikan sedikit tips aplikasi, wajahnya berbinar. "Kamu penyelamatku hari ini!" katanya.

Berbeda dengan pekerjaan sebelumnya, di departemen cat dampak kerja saya terasa lebih nyata, instan, dan bisa dilihat dalam bentuk senyuman pelanggan yang puas.

Ternyata, saya tidak sendirian dalam kegilaan—atau kegembiraan—pasca-pensiun ini. Fenomena yang saya alami ini bukanlah keunikan personal seorang mantan penyiar Indonesia di Virginia. Ini adalah gejala umum di Amerika Serikat yang dikenal dengan istilah "Unretirement"—sebuah tren di mana para pensiunan memutuskan untuk kembali masuk ke pasar tenaga kerja, khususnya di sektor ritel, supermarket, dan jasa.

Jika Anda berjalan ke Walmart, Target, Home Depot, atau Costco di penjuru Amerika, Anda akan sangat sering dilayani oleh para "senior" berambut perak yang dengan ramah menawarkan bantuan. Mengapa sektor ritel yang menguras fisik ini justru menjadi magnet bagi para lansia yang seharusnya sudah duduk manis di kursi goyang menikmati masa tua?

Pembunuh Sunyi, Perangi Biaya Inflasi

Ada jalinan alasan yang kompleks di balik fenomena ini, yang bisa kita bedah dari kacamata ekonomi dan sosiologi.

Dari faktor ekonomis, mari kita jujur pada angka. Pensiun di Amerika tidak selamanya seindah brosur agen perjalanan. Meskipun banyak mantan pegawai federal atau korporat memiliki dana pensiun (seperti dana TSP atau 401k), inflasi yang menggerogoti daya beli membuat upah tambahan dari sektor ritel menjadi bantalan finansial yang sangat lumayan. Uang saku ekstra ini bisa digunakan untuk membayar asuransi kesehatan yang terus meroket atau sekadar uang belanja tambahan tanpa mengusik tabungan inti.

Selain itu, sektor ritel menawarkan sesuatu yang jarang ada di pekerjaan kantoran biasa: fleksibilitas. Para pensiunan bisa memilih jam kerja part-time sekitar 15–20 jam seminggu, sehingga mereka tetap punya banyak waktu untuk hobi atau keluarga.

Namun, uang bukan satu-satunya penggerak. Ada faktor sosiologis yang tidak kalah kuat, yaitu perjuangan melawan hantu "keheningan". Bagi banyak orang, pensiun adalah sebuah kejutan budaya (culture shock). Setelah puluhan tahun hidup dengan jadwal yang padat, tuntutan profesi, dan stimulasi mental yang konstan, tiba-tiba dunia menjadi sangat sunyi saat pensiun tiba.

Pekerjaan baru di ritel ini hadir bukan cuma soal cek gaji, tapi soal merebut kembali struktur hari. Bangun pagi, memakai seragam apron, dan punya tempat untuk dituju memberikan rasa kepemilikan tujuan (sense of purpose). Lebih dari itu, interaksi sosial di lantai toko adalah obat awet muda yang manjur. Menjadi sales associate di departemen cat memaksa seseorang untuk terus berbicara dengan orang asing, membantu memecahkan masalah praktis mereka, dan bercanda dengan rekan kerja lintas generasi. Ini adalah stimulus otak yang luar biasa untuk menjaga pikiran tetap tajam dan mengusir kesepian.

Fenomena unretirement ini pada akhirnya membawa pergeseran menarik dalam lanskap sosial dan profesional di Amerika. Salah satunya adalah terciptanya jembatan antar-generasi di tempat kerja. Di toko, saya bekerja berdampingan dengan anak-anak muda usia 20-an yang mungkin baru pertama kali merasakan dunia kerja. Dinamika yang muncul sungguh unik. Kami yang senior membawa etos kerja klasik dan ketenangan dalam menghadapi komplain, sementara mereka membawa energi dan kelincahan teknologi yang sering kali membuat saya kagum. Hubungan sosial ini, secara tidak langsung, meruntuhkan stereotip ageism (diskriminasi usia).

Menariknya, fenomena ini juga menggeser definisi "kerja" itu sendiri. Bagi para pensiunan ini, pekerjaan ritel sering kali tidak lagi dirasakan sebagai beban hidup yang menjemukan (labor), melainkan sebagai sarana rekreasi yang dibayar (paid hobby). Itu sebabnya, banyak dari mereka yang menjalaninya dengan tulus dan penuh senyum—hal yang mungkin agak sulit dilakukan oleh pekerja muda yang sedang stres memikirkan cicilan pertama atau tekanan karier mereka.

Tentu saja, ritel tidak sepenuhnya ramah pada lutut yang menua. Berdiri berjam-jam di atas lantai beton toko grosir besar adalah ujian fisik tersendiri yang menuntut manajemen kesehatan yang prima.

Jadi, kembali ke pertanyaan saya saat mengosek tumpahan cat malam itu: Apakah ini degradasi kelas?

Sama sekali tidak. Menjadi pelayan publik di bidang penyiaran selama puluhan tahun adalah kehormatan, tetapi melayani masyarakat secara langsung di lantai toko ritel juga memiliki keluhuran tersendiri. Ego kita mungkin agak tersenggol di awal, terutama saat harus membersihkan akibat kecerobohan sendiri dari lantai toko di hadapan pelanggan. Namun, hidup terlalu singkat jika hanya dihabiskan untuk mencemaskan gengsi status sosial.

Bagi saya, dan jutaan pensiunan di Amerika, apron kerja ini bukanlah tanda kemunduran. Ini adalah babak baru yang segar, sebuah petualangan jenaka di mana kami tidak lagi mengejar karier, melainkan merayakan hidup lewat setiap kaleng cat yang terjual dan setiap obrolan hangat dengan sesama manusia.

Sekarang, permisi... saya harus kembali ke konter. Ada pelanggan yang sepertinya bingung membedakan warna matte dan glossy, dan "pakar cat" lulusan VOA ini siap bertugas!